Bercermin pada waktu

 

Bercermin pada waktu
Ilustrasi Waktu yang diukur dengan jam pasir


"Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di miraza, tapi aku Ingin. Menghabiskan waktuku disisimu sayangku," Gie


Tangerangtalk – Saya baru menyadari, bahwa dari penggunaan dan prioritas waktu dapat mencerminkan siapa dan seberapa penting sesuatu.


Bagi orang yang penting bagi kita, setiap detik yang terbuang sangat berharga. Sehingga kita berusaha agar tidak terlambat bila berjanji atau segera sekedar membalas pesan orang yang mendapatkan prioritas waktu kita.


Bagaimana dengan orang lain, yang mungkin bukan merupakan prioritas kita. Apakah kita berikan waktu seperlunya bahkan tanpa memberikan waktu sekejap.


Misalkan seseorang jatuh cinta pada seorang gadis. Maka kalau dia berjanji ketemu kemungkinan besar dia tidak akan terlambat.


Jika dia menerima pesan kemungkinan segera mungkin dibalas. Kenapa itu terjadi?

Apakah hal tersebut efek dari cinta?


Nah kalau kamu suka seseorang atau menurutmu dia penting bagimu. Lihat saja dari janjinya atau cara dia membalas pesan.


Kalau dia suka tidak tepat waktu atau suka lama membalas pesanku. Sudah pasti kamu tidak penting baginya.


Problematika Waktu


Problematika sesungguhnya adalah pada posisi orang lain ini. Sering kali kita menggunakan jam karet saat berjanji pada orang lain atau berlama-lama sekedar membalas pesan.


Padahal waktu dapat menjadi cermin. Bagaimana kita memperlakukan orang lain seperti itulah diri kita. Sehingga kita dapat melihat diri kita pada cermin waktu.


Bulu kuduk saya bahkan merinding saat membayangkan bagaimana waktu kita dihabiskan pada orang atau sesuatu yang kita benci. Cerminan seperti yang saya harapkan dari penggunaan waktu seperti itu.


Apalagi sampai pada posisi kita tidak pilihan lain selain menghabiskan waktu kita pada hal yang kita tidak suka. 


Misalkan harus atau terpaksa menghabiskan waktu untuk orang yang tidak kita suka.


Atau menghabiskan waktu muda kita untuk pekerjaan yang kita tidak suka.


Wah….gimana kalau seperti itu?


Jawabannya sebenarnya sederhana pertama tinggalkan. Kalau tidak, belajar lah mencintai hal tersebut.


Meski prakteknya agak sulit. Tapi, ketimbang harus menghabiskan sisa hidup kita untuk hal yang tidak kita suka.

(Sayuti)



Next Post Previous Post