Terlambat Jatuh Hati, Akhirnya Patah Hati


Menulis sejatinya adalah melatih mengungkapkan apa yg hati kita rasakan, apa yang otak kita pikirkan dan mengungkapkan apa yang jiwa kita rasakan dalam bentuk tulisan sehingga tidak mudah hilang termakan zaman. 
Menulis menjadi teman saat kita sendirian tanpa ada teman atau pun pasangan tempat kita mengungkapkan segala keadaan yang kita rasakan. Ketika suasana hati tenang, susah , senang, maupun patah arang karena banyak permasalahan kehidupan yang bermacam-macam.

Menulis menuangkan rasa menjadi kata, apa yang kita pikirkan menjadi karya, mengembangkan emosi dalam jiwa menjadi lebih bermakna. Jangan pernah putus asa dan kecewa karena semua yang kita rasa akan dapat lebih berharga jika kita bisa memanfaatkan & mengambil hikmah dari setiap apa pun yang menimpa.

Rasa, kecewa, sedih dan luka, itu pasti terasa ketika ternyata yang kita cinta bukanlah yg terbaik untuk kita menurutNya.

Kurang lebih sedikit berbagi cerita tentang sekelumit kisah cinta,
Awal mula bertemu si dia dalam sebuah acara kita belum saling sapa karena belum saling mengenal nama kebetulan kita berdua dipasangkan dalam acara tersebut.

Ketika duduk disandingkan berdua si dia bukan bertanya nama melainkan yang ditanya adalah sudah menikah atau belum, singkat cerita hanya senyum menjadi jawaban awal pertanyaannya barulah kemudian beri penjelasan pada si dia bahwa suami telah meninggal 2 tahun lalu. 

Kurang lebih 2 bulan berlalu sebut saja Yadi mengikuti akunsosmed milik aini lanjut chat wa dan sterusnya hingga semakin lama semakin akrab dan merasa dekat dan merasa nyaman. Meskipun di awal aini merasa ragu bahkan menolak ketika si yadi meyakinkan bahwa dia akan menerima aini dan meyakinkan bahwa orangtuanya juga akan menyetujuinya meskipun ia akan menikahi seorang janda. Yadi adalah sosok laki-laki baik, sangat menyayangi ibunya yang kebetulan dia adalah anak tunggal, dia juga lulusan pesantren qori di daerah Banten, selain baik Yadi selalu meyakinkan Aini dengan segala perhatian sikap tanggung jawab juga pola pikir Yadi yg ditunjukkannya melalui komunikas yg selain terjalin diantara mereka. Diantara segala sikapnya itulah penyebab Aini yang awalnya tidak menaruh harapan pada Yadi lambat laun merasa nyaman dan merasa ada mendapat ketulusan, akhirnya rasa cinta itu tumbuh seiring waktu berjalan dengan benih-benih kekaguman Aini pada sikap Yadi yang baik hati. 
Terlebih Yadi tidak pernah mempermasalahkan status Aini yang janda dengan anak dua. Hati Aini yang tadinya masih menutup diri dari laki-laki menjadi terbuka kembali dengan hadirnya Yadi dalam hati aini meski Aini tidak berani menyatakan bahwa dirinya pun tanpa terasa telah jatuh hati pada Yadi.
Sampai akhirnya Aini harus mengakhiri hubungannya dengan Yadi sebab keputusan Yadi yang secara tiba-tiba memberitakan bahwa dirinya sudah dijodohkan oleh perempuan pilihan ibunya dan siap untuk melangsungkan acara lamaran keesokan harinya. Sontak Aini kaget,terkejut raut wajah berubah menjadi cemberut membaca chat dengan bahasa yang halus dan sopan itu dikirimkan padanya tepat ba’da maghrib tiba. Namun tidak sehalus dan sesopan pengirimnya Aini terkejut bukan kepalang kepala seketika menjadi berat, pikiran seakan melayang lidah terasa pahit, rasa hati saat itu juga seakan menjadi sempit dengan berat hati ia membalas dengan bahasa yang baik dan menenangkan yang intinya turut memberikan doa terbaik. Malam itu menjadi awal mula malam-malam berat yang harus dilalui Aini dengan kesedihan yang menyesakkan dada. 

Tapi apa mau dikata itu sudah menjadi pilihan hidup laki-laki yang telah membuatnya banyak menaruh harap. Kekecewaan terbesarnya adalah karena Yadi tidak segera berterus terang padanya, karena logika nya tidak ada perjodohan yang tidak direncanakan, tidak ada acara lamaran yg begitu sangat dadakan. Kenapa si dia tidak berterus terang sejak awal jika ada rencana perjodohan. 

Namun Aini tidak sepenuhnya menyalahkan keputusan Yadi yang sudah mengecewakannya, karena ia benar-benar paham akan kondisi dirinya yang hanyalah seorang janda dengan anak 2 dibandingkan dengan Yadi yang anak tunggal, muda dan anak kesayangan ibunya. Mungkin ibunya tidak rela jika Yadi ini memilih seorang janda, oleh karenanya segera menjodohkannya dengan wanita lain yang mungkin menurut ibunya lebih berharga dibanding seorang janda.
Sejak saat itu Aini mulai kembali menata diri dan hati untuk lebih mendekatkan lagi pada sang Ilahi Robbi. Ia tidak lagi men-chat si Yadi meskipun dengan berat hati. Berkali-kali memblokir nomor telephonnya tetap Yadi masih menjadi laki-laki penguasa hatinya kini. Untuk kedua kalinya Aini harus patah hati. Patah hati kali ini membuat hatinya terbuka kembali untuk segera menikah lagi.

     Dari kejadian ini Aini mengambil kesimpulan, Inilah kehidupan tempat ujian dan cobaan datang bergantian, namun semua itu merupakan cara Tuhan memberikan pendidikan agar kita semakin kuat bertahan, kuat iman dan semakin menjauhkan dari kemaksiatan. Semakin menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Meskipun kekecewaan yang ditinggalkan Yadi untuk Aini, namun Aini tidak sampai hati membenci Yadi terlebih Aini sudah menaruh hati pada Yadi. Aini hanya memiliki keyakinan hati bahwa lelaki yg lebih baik akan datang disaatnya nanti. Ini dijadikannya pelajaran hidup yg berarti bagi hati dan belajar cara menyikapi ketika harus patah hati.

Karya : Nur Andhira

Next Post Previous Post