Opini: Pemilu dan Lembaga Survei dalam Kajian Psikologi Komunikasi

Pemilu dan Lembaga Suvei dalam Kajian Psikologi Komunikasi
Endang Suhendar


Tangerangtalk.OnlinePemilihan Umum (Pemilu) ialah sebuah proses penentuan dalam mengisi sebuah jabatan di Pemerintahan, sistem Pemilu digunakan oleh Negara-negara yang menerapkan sistem demokrasi di dalamnya, salah satu Negara yang menerapkan sistem demokrasi ialah Indonesia, dimana rakyat ialah penentu dalam Pemilu karena rakyat bertugas untuk memilih siapa yang menjadi wakilnya di pemerintahan, di Indonesia Pemilu akan dilaksanakan pada tahun 2024, waktu yang sangat singkat sehingga hari ini sudah banyak calon wakil rakyat yang sudah bergerak untuk bisa dipilih oleh rakyat, dimulai dari Eksekutif seperti  Calon Presiden (Capres) dan Calon Wakil Presiden (Cawapres), serta Calon Pemimpin daerah seperti halnya Bupati atau Walikota dan Gubernur, selain itu juga ada calon Legislatif seperti Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), dari tingkat pusat sampai daerah.

Pemilu 2024 sudah sangat dirasakan, suasana politik begitu sangat terlihat, entah di dunia nyata seperti pemasangan-pemangan baliho sampai ke dalam berita-berita menggunakan media offline ataupun online, hal tersebut sungguh sangat terlihat, khususnya dalam Pemilihan Capres dan Cawapres, diketahui saat ini yang terlihat ada tiga pasangan Capres dan Cawapres, pertama ialah pasangan Anies – Cak Imin yang pertama dalam menentukan Cawapresnya dan sudah mendaftarkan diri ke Komisi Pemilihan Umum (KPU), kedua yaitu pasangan Ganjar – Mahfud yang sama juga sudah mendaftarkan diri ke KPU, dan yang ketiga yaitu Prabowo – Gibran, calon yang dalam penentuan Cawapresnya terakhir.

Setiap pasangan calon sudah mulai bergerak dari sekarang, munculnya berita-berita perihal pasangan calon menandakan bahwa politik di Indonesia sudah sangat begitu dirasakan, strategi dan taktik oleh tim koalisi sudah dirancang sebegitu rupa dalam memenangkan Pemilu, ditambah Prabowo yang secara pengalaman mencalonkan diri sebagai Capres sudah cukup matang dan memilih anak muda sebagai pasangannya.setiap koalisi pastinya sudah memikirkan dengan matang dalam menentukan pasangannya dalam berjuang untuk memenangkan Pemilu 2024.

Perjalanan Pemilu 2024 yang hanya terhitung beberapa bulan lagi membuat setiap elemen bergerak dan juga menganalisis politik yang terjadi, seperti halnya Lembaga Survei yang sudah dari jauh-jauh hari turun kemasyarakat untuk menganalisis pasangan mana yang paling tinggi suaranya, mengukur ektabilitas setiap calon sudah muncul dari berbagai macam Lembaga Survei, seperti Lembaga Survei Indonesia (LSI) telah melakukan survei ditanggal 16 -18 Oktober 2023 dan menghasilkan Prabowo Subianto memperoleh angka 35,8%, Ganjar Pranowo 30,9% diikuti oleh Anies Baswedan 19,7%.

Selain itu, dari Polling Institute mensurvei  Prabowo 36,3%, Ganjar 32,4% dan Anies 20,0%. Ipsos Public Affairs yang dilakukan pada 22-27 Agustus 2023 di 24 Provinsi di Indonesia. Responden survei sebanyak 1.200 dan menghasilkan Ganjar Pranowo: 40,12%, Prabowo Subianto: 37,21% dan Anies Baswedan: 22,67%. Lembaga Survei Nasional (LSN) menghasilan Prabowo Subianto 40,7%, Ganjar Pranowo 31,4%, dan Anies Baswedan 22,1%, masih banya Lembaga Survei dalam menganalisis elektabilitas setiap calonnya, dari hasil yang sudah di sebutkan Prabowo masih unggul di setiap Lembaga Survei walaupun ada dari Ipsos Public Affairs yang menghasilkan Ganjar diurutan pertama, akan tetapi Anies tetap di urutan ketiga.


Banyaknya Lembaga Survei yang telah melakukan analisis terhadap elektabilitas calon Presiden membuat segala media memberitakan hasil dari Lembaga Survei tersebut dan membuat masyarakat membaca berita tersebut, hasil yang ada di media massa membuat masyarakat bisa terdoktrin dengan berita tersebut karena hasilnya Prabowo yang unggul di Lembaga Survei tersebut dan Anies selalu di poisisi ketiga. Akan tetapi Anies tetap percaya diri dalam memenangkan Pemilu 2024, bahkan di beberapa tayangan media, Anies sering mengatakan bahwa dirinya memang selalu dibawah ketika survei yang dilakukan oleh Lembaga Survei, dan ini tidak terjadi di Pemilihan Presiden saja, karena di waktu mecalonkan diri sebagai Gubernur pun, elektabilitas Anies selalu di urutan ketiga, akan tetapi hasilnya jauh terbalik dan Anies bisa memenangkan Pemilihan Gubernur di DKI Jakarta.


Penayangan berita tentang hasil elaktabilitas pasangan Capres dan Cawapres bisa menjadi sebuah peluru dalam mempengaruhi masyarakat, seperti halnya dalam karya Richard West & Lynn H. Turner dalam judulnya Pengantar Teori Komunikasi (Analisis dan Aplikasi) menjelaskan ada tentang Teori Ekologi Media yang dicetuskan oleh Herbert Marshall, teori tersebut menjelaskan bahwa media memiliki peran dalam merubah cara berpikir dan sikap, ini menjadi sebuah senjata dalam penayangan berita di media massa, selain itu juga dalam karya Prof. Dr. Khomsahrial Romli, M.Si,. dalam bukunya yang berjudul Komunikasi Massa, di buku tersebut ada teori yang namanya Agenda Setting yang di cetuskan oleh Profesor Jurnalistik yaitu Maxwell McComb dan Donald Shaw, teori tersebut mengatakan bahwa media massa mempunyai kemampuan untuk memindahkan wacana dalam agenda pemberitaan kepada agenda publik.

Teori Agenda Setting menjelaskan bahwa media mempunyai peran dalam pemberitaan, dan memilih berita mana yang harus ditayangkan, ketika berita bisa dilakukan seperti hal tersebut, ada dugaan dan asumsi liar tentang titipan pemberitaan, ketika dikaitkan dengan Pemilu maka seseorang yang sudah condong ke salah satu calon akan menyuruh media massa untuk menyiarkan berita yang akan menaikan citra pasangan calon tersebut, termasuk dalam pemberitaan elektabilitas pasangan calon Presiden yang dilakukan oleh Lembaga Survei.

Selain itu, dalam karya Drs. Jalaluddin Rakhmat, M.Sc, dalam judul bukunya Psikologi Komunikasi menjelaskan bahwa komunikasi efektif itu apabila apa yang dikomunikasikan bisa diterima, bahkan lebih dari itu, seperti pikiran atau sikap bisa berubah. Dengan adanya hasil dari Lembaga Survei tersebut bisa menyerang psikologi masyarakat, bahkan tidak hanya masyarakat saja, akan tetapi pasangan calon juga bisa kena psikologi atau menjatuhkan mental, seperti halnya Anies yang selalu dibawah dalam elektabilitas oleh Lembaga Survei, akan tetapi Anies tidak terpengaruhi oleh hal tersebut dan belajar dari survei ketika di DKI Jakarta, tapi hasilnya justru Anies yang memenangkannya.

Hal ini justru yang wajar bagi pasangan calon yang secara psikologi komunikasi di gempur habis-habisan, tapi bagaimana dengan masyarakat yang setiap saat digempur oleh media massa dan media sosial perihal pemberitaan elektabilitas pasangan calon Presiden, ini menjadi sebuah ancaman bagi Anies dalam memenangkan Pemilu di 2024 mendatang, ditambah media mempunyai peran yang sangat penting saat ini dengan segala informasi yang diterima oleh masyarakat sudah melalui media massa dan media sosial, pasangan calon Presiden yang secara Lembaga Survei ada di bawah, harus bekerja keras untuk turun di masyarakat dan mengambil hati masyarakat.

Pemilu 2024 yang sedang dilakukan prosesnya bahkan pendaftaran sudah dalam prosesnya, semoga Pemilu bisa berjalan dengan baik dan lancar serta demokrasi yang di cita-citakan bisa terwujud, dan siapapun nantinya yang terpilih menjadi Presiden, bisa membawa perubahan yang sangat signifikan untuk Indonesia dan tetap ingat dengan Pancasila, serta bisa tercapainya sila ke-lima yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Next Post Previous Post