Hipotesis: Apa rasanya orang yang mengkritik dan menasehati

Hipotesis: Apa yang dirasakan orang yang mengkritik dan menasehati
Hipotesis: Apa yang dirasakan orang yang mengkritik dan menasehati

Tangerangtalk –
Tidak ada hal yang benar-benar benar. Tidak ada hal yang benar-benar salah


Dua hal yang aku pahami sebagai rumusan skeptis yang aku buat dalam melihat suatu peristiwa. 


Skeptis pada hal yang diyakini adalah sebuah keharusan saat ini. Dimana sumber informasi begitu berlimpah dengan adanya internet.


Sehingga ketika menerima sesuatu kita dapat segera mengecek kebenaran ke beberapa sumber. Mungkin, hal ini adalah kemewahan yang tidak dimiliki generasi sebelumnya.


Alasan ku menulis hal ini adalah karena beberapa hari ini aku sering mendapatkan kritik dari orang maupun nasehat. Bukankah itu baik? Iya, itu baik


Tapi melalui tulisan ini, aku ingin menulis dalam perspektif yang sangat pribadi. Bukan berarti mengabaikan kritik dan nasehat yang diberikan.


Aku melihat seseorang yang memberikan kritik. Dirinya  meyakini bahwa merasa lebih pintar, soleh, suci dan benar ketimbang orang yang dinasehati. Karena tanpa merasakan hal tersebut tidak akan keluar kata-kata kritik tersebut.


Saya menyangkut hal tersebut pada psikologi (ini hipotesis pribadi) orang yang marah, memukul, membully, mencaci orang lain. Mereka memiliki pandangan dasar dirinya lebih kuat daripada korbannya.


Kalau sang aktor bertemu orang yang dirasa sama kuat dengan dirinya. Maka dia tidak akan berani melakukan hal tersebut. Tapi, malah saling melengkapi pandangan yang berbeda tersebut.


Apa yang dirasakan pasca mengkritik


Menurutku hal tersebut terjadi juga pada orang yang mengkritik dan menasehati. Saya mencoba menyelami apa sih yang dirasa orang yang melakukan hal tersebut apa setelahnya.


Jawabannya rasa kepuasan. Kepuasan karena merasa lebih pintar, baik, soleh, kuat, dan suci. Kepuasan yang tidak pernah dirasakan ketika dia jujur pada dirinya yang bukan siapa-siapa.


Akhirnya tulisan ini, saya ingin mengatakan bahwa tulisan ini hanyalah hipotesis pribadi dan saya tidak menolak setiap kritik dan nasehat.


(Sayuti)


Next Post Previous Post