Waspada DBD, Dinkes Kabupaten Tangerang Ingatkan 3M Plus

  

Waspada DBD, Dinkes Kabupaten Tangerang Ingatkan 3M Plus
Dok. Humas

Kabupaten Tangerang - Dinas Kesehatan (Dinkes) mewaspadai ancaman penyakit demam berdarah dengue (DBD) mengintai masyarakat Kabupaten Tangerang di saat peningkatan curah hujan. Deteksi dini adanya infeksi virus dan pengendalian reproduksi nyamuk menjadi kunci penanganan dan pencegahan penyakit DBD.

Karena itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tangerang bergerak cepat untuk mengantisipasi penyakit yang ditularkan melalui vektor nyamuk Aedes Aegypti ini. Seperti diketahui, nyamuk Aedes Aegypti memiliki habitat di negara beriklim tropis seperti Indonesia termasuk wilayah Kabupaten Tangerang. 

Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang menggencarkan sosialisasi dan informasi kepada  masyarakat untuk selalu waspada terhadap peningkatan  penyakit DBD apalagi dengan kondisi iklim di saat musim penghujan seperti saat ini.  

Adanya peningkatan curah hujan sehingga berisiko terjadinya tampungan air alami di barang-barang bekas atau wadah yang bisa menampung air hujan di sekeliling tempat tinggal, akan menjadi tempat perkembangbiakan jentik nyamuk DBD, apalagi untuk wilayah yang jarang dilakukan kegiatan membersihkan lingkungan. 

Kepala Dinkes Achmad Muchlis menyampaikan, perlu upaya bagi masyarakat untuk bersama-sama mencegah peningkatan kasus DBD yaitu dengan menumbuhkan keinginan untuk melakukan aksi pencegahan DBD. Semua pihak harus memulai dari rumah sendiri untuk menjadi Jumantik (Juru Pemantau Jentik) DBD. 

“Melalui program 3M Plus yakni Menguras, Menutup tempat penampungan air, serta Mendaur ulang barang yang berpotensi menjadi sarang nyamuk dan plusnya yang dimaksud yaitu menggunakan lotion penolak nyamuk, menanam tanaman penolak nyamuk di sekitar rumah, serta memelihara ikan pemakan jentik di kolam," ujarnya.

Selama ini, pengendalian penyakit DBD juga dipengaruhi  oleh beberapa faktor lain diantaranya intensitas fogging yang dilakukan pada suatu wilayah tanpa pemantauan oleh pihak yang berwenang  sehingga dapat memicu nyamuk untuk menjadi lebih kebal terhadap zat insektisida yang terkandung pada saat fogging. 

“Fogging dapat dilakukan apabila wilayah tersebut sudah termasuk indikasi pemberian fogging, yang sebelumnya harus sudah dilakukan penilaian  dan pemantauan oleh tim kesehatan setempat. Fogging untuk membunuh nyamuk dewasa infeksius di wilayah tersebut. Sedangkan upaya  paling utama yang harus dilakukan sebetulnya adalah pemeriksaan dan pengawasan jentik nyamuk di rumah masing masing secara rutin, sehingga tidak memberi kesempatan bagi jentik tersebut berkembang menjadi nyamuk dewasa yang akan menjadi penular virus DBD,” kata dr. Muchlis.

Upaya lain untuk pencegahan penularan infeksi virus DBD di masyarakat, Dinas Kesehatan menghimbau masyarakat segera melakukan pemeriksaan ke fasilitas kesehatan (faskes) terdekat apabila mengalami gejala infeksi DBD sehingga tidak ada kejadian kasus DBD dengan penanganan yang terlambat, yang dapat berakibat kematian.

"Jika ada masyarakat yang mengalami gejala DBD, kami mengimbau agar segera melakukan pemeriksaan ke fasilitas kesehatan (faskes) terdekat dan apabila faskes jauh dari tempat tinggal bisa  melaporkan  ke bidan desa wilayah, sehingga bisa ditindak lanjuti dan  tidak ada kejadian kasus DBD dengan penanganan yang terlambat, yang dapat berakibat kematian," tutupnya.

Sepanjang Tahun 2023 Tercatat 882 Kasus DBD

Sepanjang Tahun 2023 Tercatat 882 Kasus DBD
Ilustrasi (Canva/Sayuti)


Mengutip Antaranews, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tangerang mencatat sebanyak 882 kasus demam berdarah dengue (DBD) telah ditemukan di daerah itu sepanjang Januari hingga September 2023.

Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada Dinkes Kabupaten Tangerang, Sumihar Sihaloho di Tangerang, Kamis, mengatakan bahwa dari jumlah ratusan kasus DBD tersebut mengalami sedikit penurunan apabila dibandingkan dengan tahun 2022 yang menyentuh angka 1.322 selama periode Januari sampai Desember.

"Tercatat dari periode Januari sampai September 2023 ini sudah ada 882 kasus, sedangkan pada tahun 2022 lalu dari bulan Januari sampai Desember hanya ada 1.322," ujarnya.

Ia menuturkan, jika kasus DBD yang terjadi di wilayah Kabupaten Tangerang selama periode pertengahan tahun 2023 ini dinilai menurun apabila dibandingkan jumlah total tahun 2022.

Menurutnya, kasus DBD yang diakibatkan oleh nyamuk aedes aegypti itu telah menjangkit segala usia mulai dari anak-anak hingga orang lanjut usia (lansia).

"Usia paling banyak terkena kasus DBD dari usia 15 sampai 59 tahun," tuturnya.

Ia mengingatkan kepada masyarakat setempat agar dapat memperhatikan kebersihan lingkungan sekitar, seperti selalu mengecek tempat penampungan air yang bisa menjadi perkembangan jentik nyamuk dan selalu menerapkan gerakan 3M plus yakni menguras tempat penampungan air, menutup tempat penampungan air serta mengubur barang yang bisa menjadi genangan air.

"Imbauan agar warga masyarakat untuk mau memeriksa jentik rumah masing-masing (satu rumah satu jumantik) untuk menurunkan kasus DBD ini," kata dia. (Humas/Antara/Sayuti)


Next Post Previous Post