Ada Apa dengan Janda?

 Gambar Canva


     “Janda” itulah istilah yang digunakan di Indonesia untuk para wanita yang tidak lagi memiliki suami, baik ditinggal mati ataupun karena perceraian yang terjadi. Adakah wanita yang sengaja ingin menjadi janda? Tentu tidak ada bukan? Namun semua sudah menjadi kehendak Ilahi Rabbi. Maka jangan menghina atau menghakimi, apalagi jika kalian berada di posisi ini.

Dimana hidup menjadi seorang janda lebih memiliki banyak tantangan dan dibutuhkan keberanian. Bagaimana tidak? Janda tidak hanya harus siap bekerja sekuat tenaga demi dirinya terlebih lagi untuk anak-anak dan keluarga lainnya. Tapi harus berani terus memperbaiki diri dan hati untuk tidak mudah terpengaruhi oleh kata – kata miring yang terlontar dari sana-sini yang sering kali menyinggung dan menyakiti hati. tapi itu semua tentunya membuat kita semakin kuat hati juga semakin kuat untuk terus mendekat pada Sang Pemberi nikmat.

Banyak para istri yang merasa tersaingi dengan keberadaan kami, meskipun sebagian kami tidak pernah merebut para suami demi kepentingan kami sendiri. Sudah menjadi naluri bahwa wanita ingin dicintai, namun bukan berarti merebut para suami dari hati para istri. Jangan hanya menyalahkan kami yang berjuang hidup sendiri tapi hendaknya para istri mampu  menjaga para suami agar tidak pindah ke lain hati.

Begitupun para kaum suami hendaknya lebih bisa mengontrol diri bahwa mereka punya istri yang umumnya tidak ingin cintanya terbagi. Sehingga jangan sampai menggoda janda hingga akhirnya tumbuh rasa cinta diantara keduanya yang justru akan menimbulkan petaka. Hargailah para janda sebagaimana wanita lainnya bukan melihatnya sebagai wanita penggoda. Mungkin sebagian dari janda menggoda namun sebagian lainnya adalah janda berharga yang berusaha sekuat tenaga menjaga diri, harga diri,keluarga juga kehormatannya dari fitnah mereka yang beranggapan kami (janda) mudah terlena karena haus akan cinta.

Secara pribadi istilah janda adalah asing bagiku dan sangat tidak nyaman telinga ini mendengar istilah itu, meskipun kini itu menjadi status diriku. Mungkin sedikit iya hanya sedikit ramah telingaku mendengarnya dengan single parent atau sebut saja orangtua tunggal, sejak suami tercinta dipanggil oleh Tuhan. Banyak tantangan menjadi orangtua tunggal. Belum hilang bagaimana rasa pedihnya kehilangan namun harus menanggung beban omongan-omongan yang tidak menyenangkan dari apa yang tidak kulakukan. Tidak sedikit dari mereka beranggapan bahwa diriku adalah ancaman bagi mereka yang sedang mengalami ketidak harmonisan rumah tangga.  Mereka beranggapan bahwa janda adalah penggoda harta dan keutuhan rumahtangga. Padahal tidak demikian adanya.

Hukum alam yang terjadi secara otomatis membuat ketidaknyamanan bagi kami (janda) menjalankan kehidupan sehari-hari. Harus senantiasa hati-hati, khawatir sikap dan tingkah laku kami menyakiti orang-orang disekitar kami, ataupun sahabat karib kami sendiri.

Mulai lelah dengan segala yang berkaitan dengan janda kenapa sangat sensitif dan gerak-gerik lebih disorot, diperhatikan, dijadikan bahan obrolan para tetangga, padahal kami biasa-biasa saja tidak mengganggu kehidupan siapa-siapa, tapi sangkaan-sangkaan itu selalu ada, praduga mereka tanpa bukti apa-apa akhirnya kami abaikan saja. Contohnya  sedikit berbicara dengan rekan kerja meski tidak langsung berbicara di hadapan kita, menjadi bahan obrolan yang mengada-ada. Mungkin ini hanya perasaan saya sendiri, tapi ya memang begini nyata adanya.

Ada juga sebagian mereka yang bersikap sangat ramah,  berempati dan tetap memperlakukan kami (janda) dengan baik. Namun sejatinya status itu sendiri membuat kami  pandai-pandai menyikapi semua rasa empati orang-orang terdekat kami dengan hati yang sebagaimana mestinya jika kita dikasihani. Artinya harus tau diri dengan segala kondisi.

Janda tua ataupun muda sama saja tetaplah mereka wanita yang hakikatnya juga ingin bahagia dan bukannya terluka dan merana kecewa.  Terlebih janda tua yang tidak dikaruniai anak, sehingga menghabiskan hari-hari seorang diri dunia yang ramai menjadi terasa sepi. Bahkan beberapa media berita mengabarkan beberapa wanita tua yang hidup sendiri akhirnya bunuh diri, cukup mengerikan juga membayangkannya.

Lain halnya dengan Ibu muda yang harus menjanda sebab perceraian. Bukan berarti mempermainkan pernikahan tapi untuk apa rumah tangga dipertahankan jika hari- hari yang dilalui harus dilewati dengan kekecewaan dan luka batin mendalam akibat pasangan yang tidak sepemahaman. Sejatinya semua ingin bahagia dengan masing-masing pasangan. Menjadi tantangan tersendiri untuk membina kembali jika kelak ingin menikah lagi.

Belum lagi wanita yang ditinggal mati suami yang baik hati, mengerti dan penuh cinta kasih. Pasti merasakan kehilangan mendalam saat ditinggalkan, kehidupan setelah kepergiannya dilalui dengan banyak kenangan yang senantiasa hinggap dalam benak dan pikiran, namun harus belajar mengikhlaskan karena sejatinya segalanya adalah milik Tuhan penguasa alam.

Bukan hanya luka hati yang harus diperbaiki, tapi janda juga harus menguatkan diri dan beradaptasi dengan kondisi kanan kiri yang harus dihadapi juga biaya hidup yang menuntut secara otomatis harus mandiri dan memiliki penghasilan sendiri. Tapi yakinlah bahwa Allah sang pemberi rezeki selalu memenuhi segala apa yang perlu dilengkapi dalam hidup ini selama kita masih mau mengkaji diri, berdoa, berusaha dan berupaya memenuhi kebutuhan sehari-hari.

 Tentunya bahagia adalah dambaan semua manusia termasuk wanita. Banyak dari sebagian pandangan mereka bahwa wanita bahagia adalah mereka yang mampu menjaga keutuhan keluarga, hidup bersama hingga kesurga. Namun apalah daya, semua mempunyai jalan hidup yang berbeda-beda, layaknya hukum hidup di dunia fana ini kadang tertawa terkadang terluka, ada bahagia ada menderita, kadang mudah terkadang susah semua itu adalah hal yang lumrah bagi manusia.

Oleh: Nur Andhira


Next Post Previous Post