Kenapa Politisi Masih Menggunakan Spanduk dan Baliho di Era Digital?

Kenapa Politisi Masih Menggunakan Spanduk dan Baliho di Era Digital?

Tangerangtalk.online - Dalam era digital yang begitu maju seperti sekarang, di mana hampir semua aspek kehidupan terhubung dengan teknologi, banyak yang mungkin bertanya-tanya, mengapa politisi masih menggunakan spanduk dan baliho dalam kampanye politik mereka? 

Mengapa tidak semua beralih sepenuhnya ke media sosial dan iklan online? Jawabannya lebih kompleks daripada yang mungkin Anda kira, dan itu melibatkan prinsip-prinsip dari teori funnel marketing.

1. Target Audience yang Beragam


Salah satu alasan utama politisi masih menggunakan spanduk dan baliho adalah untuk menjangkau khalayak yang beragam. Di Indonesia, tidak semua orang memiliki akses internet atau media sosial, terutama di daerah pedesaan atau pelosok. Spanduk dan baliho tetap menjadi cara yang efektif untuk menjangkau pemilih yang mungkin tidak terkoneksi dengan dunia digital. Ini sesuai dengan konsep pemasaran di tingkat atas (top-funnel marketing) di mana Anda berusaha menarik perhatian sebanyak mungkin orang.

2. Menciptakan Kesadaran (Awareness)


Dalam teori funnel marketing, kesadaran adalah tahap pertama. Politisi perlu memastikan bahwa nama dan wajah mereka dikenal oleh sebanyak mungkin pemilih potensial. Spanduk dan baliho yang ditempatkan di lokasi strategis seperti jalan-jalan utama, pertigaan, atau pusat perbelanjaan adalah cara yang efektif untuk menciptakan kesadaran ini. Meskipun media sosial bisa membantu dalam mencapai kesadaran ini, tetapi penggunaannya tidak terbatas pada pemilih yang sudah memiliki akses ke internet.

3. Meningkatkan Kredibilitas


Politisi juga menggunakan spanduk dan baliho untuk meningkatkan kredibilitas mereka. Kehadiran fisik seperti ini memberikan kesan nyata dan dapat dipegang oleh pemilih. Dalam konteks funnel marketing, ini masuk dalam tahap pertengahan (middle-funnel marketing), di mana Anda berusaha membangun kepercayaan pemilih.

4. Mendukung Strategi Digital


Penting untuk dicatat bahwa spanduk dan baliho tidak berdiri sendiri. Mereka sering kali digunakan bersamaan dengan strategi digital. Misalnya, spanduk dapat mencantumkan akun media sosial politisi, atau QR code yang dapat dipindai untuk mengarahkan pemilih ke situs web kampanye. Dalam funnel marketing, ini adalah bagian dari strategi bottom-funnel, di mana pemilih diberikan langkah-langkah konkret untuk bertindak, misalnya, dengan mendukung kampanye secara online.

5. Menjangkau Segmen Tertentu


Spanduk dan baliho juga memungkinkan politisi untuk menargetkan segmen tertentu dari pemilih. Misalnya, mereka dapat menempatkan spanduk di daerah yang dianggap kunci atau di lokasi yang sering dikunjungi oleh pemilih potensial tertentu. Dalam teori funnel marketing, ini adalah bagian dari strategi personalisasi di tingkat bawah (bottom-funnel), di mana pesan dikustomisasi untuk segmen tertentu untuk mendorong tindakan mereka.

Jadi, meskipun kita hidup dalam era digital, penggunaan spanduk dan baliho dalam politik masih relevan. Mereka adalah alat yang efektif untuk mencapai pemilih dari berbagai latar belakang dan tingkat akses teknologi yang berbeda. Dalam konteks teori funnel marketing, spanduk dan baliho berperan dalam setiap tahap funnel, membantu politisi membangun kesadaran, kredibilitas, dan, pada akhirnya, mendapatkan dukungan pemilih. Dalam politik, seperti dalam pemasaran, berbagai alat dan strategi sering kali bekerja lebih baik saat digunakan bersama-sama.

Next Post Previous Post